In:

Beberapa Contoh Database Pada Cloud Computing


Database Cloud merupakan sebuah database yang dapat di akses oleh client dari cloud service yang didistribusikan ke user melalui internet oleh cloud provider. Sebagai contoh dari database cloud computing, seperti :

1. Xeround
Merupakan layanan database cloud dengan basis MYsql.Xeround saat ini telah tersedia di Amazon Web Services yang data centernya terletak di Amerika utara dan Eropa. Perangkat lunak ini menggunakan partisi virtual dimana data partisi yang dipisahkan – atau diabstraksikan – dari sumber daya fisik. Ini partisi virtual memegang salinan baik data dan indeks, untuk memastikan ketersediaan tinggi dan kinerja.


2. Microsoft Sql Azure Database
Microsoft ® SQL Azure ™ Database adalah database layanan awan relasional (RDBMS) yang dibangun pada SQL Server ® teknologi. Ini adalah, sangat tersedia scalable, multi-penyewalayanan database yang diselenggarakan oleh Microsoft di awan. Database SQL Azuremembantu untuk meringankan penyediaan dan penyebaran database multipel. Pengembang tidak perlu menginstal, setup, patch atau mengelola perangkat lunak apapun, karena semua itudiurus oleh Microsoft dengan platform ini sebagai layanan (PAAS). Ketersediaan tinggi dantoleransi kesalahan adalah built-in dan tidak ada administrasi fisik yang diperlukan.Pelanggan dapat menggunakan pengetahuan yang ada di T-SQL pengembangan dan modelrelasional data untuk simetri akrab dengan yang ada pada database lokal. Selain itu, pelanggan bisa mendapatkan produktif pada SQL Azure cepat dengan menggunakan perkembangan yang sama dan alat-alat manajemen yang mereka gunakan untuk lokal layanan database.


3. SimpleDb
Ini merupakan salah satu Database NoSql yang berjalan di atas cloud.SimpleDb ini adalah salah satu Database Cloud miliki Amazon Web Services.  Berikut beberapa fitur dari simple db:
  • Conditional Put and Delete : operasi baru, yang ditambahkan pada Februari 2010. Mereka mengatasi masalah yang timbul ketika mengaksesSimpleDB bersamaan. Pertimbangkan sebuah program sederhana yang menggunakan SimpleDB untuk menyimpan counter, yaitu sejumlah yang dapatbertambah. Program harus dapat melakukan tiga hal:

  1. Mengambil nilai saat ini dari counter dari SimpleDB.
  2. Tambahkan satu untuk menilai.
  3. Menyimpan nilai baru di tempat yang sama dengan nilai lama di SimpleDB.

  •  Consistent Read : fitur baru yang dirilis pada saat yang sama sebagai putbersyarat dan hapus bersyarat. Seperti namanya, read konsisten menangani masalah-masalah yang timbul karena model konsistensi akhirnya SimpleDB ini (Lihat bagian Keterbatasan). Perhatikan urutan berikut operasi:

  1. Program Sebuah toko beberapa data dalam SimpleDB.
  2. Segera setelah, A permintaan data itu hanya disimpan.


4. CouchOne.
CouchOne adalah Database cloud dari CouchDb yang berjalan di atas cloud.Namun saat ini masih dalam versi beta.


sumber :

In:

Konfigurasi Samba pada CentOS

Cek Paket
Ceklah apakah di dalam sistem kita dengan menggunakan perintah:

Jika di dalam sistem kita tidak ada paket samba, installah paket-paket samba dengan menggunakan perintah:

Backup file samba
Masuklah ke direktori samba dengan menggunakan perintah:

Konfigurasi file samba
Ada banyak variasi yang bisa dilakukan oleh samba dan hal itu tergantung dari masing-masing kebijakan kantor. Namun di bawah ini, penulis mengkonfigurasi file samba yang sesuai dengan kebutuhan penulis. Dan perlu diketahui bahwa penulis menggunakan server samba pada jaringan 192.168.1.0/24 dimana IP 192.168.1.1 sebagai klien samba dengan OS windows dan IP 192.168.1.2 sebagai server samba denagn OS linux. Berikut adalah perintah untuk mengkonfigurasi file samba:

Pada file smb.conf, penulis menggunakan konfigurasi sebagai berikut:

Cek Konfigurasi File samba
Sebelum menjalankan server samba, sebaiknya diperiksa terlebih dahulu apakah file smb.conf sudah dituliskan secara betul atau tidak. Gunakan perintah berikut dan perhatikan hasilnya:



Menyalakan Server SMB
Untuk menjalankan server SMB, harus dijalankan dua daemon yaitu daemon smbd dan nmbd. Daemon smbd yaitu daemon server yang menyediakan layanan share file dan share printer untuk klien smb serta dapat melayani klien Windows 9x, ME, 2000, OS/2, DAVE Macintosh dan smbfs linux. Daemon nmbd yaitu daemon server yang digunakan untuk permintaan layanan nama NetBIOS bagi klien SMB dan dapat mengerti serta dapat menjawab permintaan layanan nama NETBIOS melalui IP. Daemon ini juga dapat digunakan sebagai server WINS yang akan melakukan penciptaan database dari permintaan registrasi nama yang diterima dan menjawab semua query dari klien SMB untuk nama tersebut. Dan juga untuk meneruskan query broadcast dari klien yang tidak memahami bagaimana cara berhubungan antara server WINS dengan suatu server Windows. Untuk menjalankan keduanya, gunakan perintah:


Membuat Password user Samba
Sesudah mensetting konfigurasi di file smb.conf, maka kita harus membuat password samba untuk user. Di konfigurasi di atas sudah dibuat contoh user boy yang dimasukkan ke dalam file smb.conf. Namun hal itu tidak berarti apa-apa jika kita belum membuat password samba untuk mereka. Format password samba adalah sebagai berikut:

Dan perlu diketahui bahwa password user samba bisa berbeda dengan password login user. Kalau sudah berhasil membuat password, maka cobalah di windows pada bagian address ketik:



Maka folder boy akan tampak. Double klik folder salah satu dari mereka, maka kita akan disodori password untuk mengakses ke folder tersebut. Jika sesudah mengetik \\192.168.1.2 tidak ada folder-folder mereka maka cobalah restart samba dengan perintah:

Tes di Linux
Kalau samba sudah berhasil berjalan dan kita ingin mengakses file di windows dari sistem linux, maka ketikkan pada bagian Location atau address:







In:

Proses Penajaman Gambar (Sharpening) dengan MATLAB

Listing yang digunakan di MATLAB :


function varargout = Sharpening(varargin)
% SHARPENING M-file for Sharpening.fig
% SHARPENING, by itself, creates a new SHARPENING or raises the existing
% singleton*.
% H = SHARPENING returns the handle to a new SHARPENING or the handle to
% the existing singleton*.
% SHARPENING(’CALLBACK’,hObject,eventData,handles,…) calls the local
% function named CALLBACK in SHARPENING.M with the given input arguments.
% SHARPENING(’Property’,’Value’,…) creates a new SHARPENING or raises the existing singleton*. Starting from the left, property value pairs are
% applied to the GUI before Sharpening_OpeningFunction gets called. An
% unrecognized property name or invalid value makes property application
% stop. All inputs are passed to Sharpening_OpeningFcn via varargin.
% *See GUI Options on GUIDE’s Tools menu. Choose “GUI allows only one
% instance to run (singleton)”.
% See also: GUIDE, GUIDATA, GUIHANDLES
% Edit the above text to modify the response to help Sharpening
% Last Modified by GUIDE v2.5 10-Jun-2004 02:13:58
% Begin initialization code - DO NOT EDIT
gui_Singleton = 1;
gui_State = struct('gui_Name', mfilename, ...
'gui_Singleton', gui_Singleton, ...
'gui_OpeningFcn', @Sharpening_OpeningFcn, ...
'gui_OutputFcn', @Sharpening_OutputFcn, ...
'gui_LayoutFcn', [] , ...
'gui_Callback', []);
if nargin && ischar(varargin{1})
gui_State.gui_Callback = str2func(varargin{1});
end

if nargout
[varargout{1:nargout}] = gui_mainfcn(gui_State, varargin{:});
else
gui_mainfcn(gui_State, varargin{:});
end
% End initialization code - DO NOT EDIT
% — Executes just before Sharpening is made visible.
function Sharpening_OpeningFcn(hObject, eventdata, handles, varargin)
% This function has no output args, see OutputFcn.
% hObject handle to figure
% eventdata reserved - to be defined in a future version of MATLAB
% handles structure with handles and user data (see GUIDATA)
% varargin command line arguments to Sharpening (see VARARGIN)
% Choose default command line output for Sharpening
handles.output = hObject;

% Update handles structure
guidata(hObject, handles);

% UIWAIT makes Sharpening wait for user response (see UIRESUME)
% uiwait(handles.figure1);

% — Outputs from this function are returned to the command line.
function varargout = Sharpening_OutputFcn(hObject, eventdata, handles)
% varargout cell array for returning output args (see VARARGOUT);
% hObject handle to figure
% eventdata reserved - to be defined in a future version of MATLAB
% handles structure with handles and user data (see GUIDATA)
% Get default command line output from handles structure
varargout{1} = handles.output;

% — Executes on button press in pushbutton1.
function pushbutton1_Callback(hObject, eventdata, handles)
% hObject handle to pushbutton1 (see GCBO)
% eventdata reserved – to be defined in a future version of MATLAB
% handles structure with handles and user data (see GUIDATA)
proyek=guidata(gcbo);
[namafile,direktori]=uigetfile({'*.jpg';'*.bmp';'*.png';'*.tif'},'Buka Gambar')
if isequal(namafile,0)
return;
end
eval(['cd ''' direktori ''';']);
I=imread(namafile);
set(proyek.figure1,'CurrentAxes',proyek.axes1);
set(imshow(I));
set(proyek.figure1,'Userdata',I);
set(proyek.axes1,'Userdata',I);

% — Executes on button press in pushbutton2.
function pushbutton2_Callback(hObject, eventdata, handles)
% hObject handle to pushbutton2 (see GCBO)
% eventdata reserved - to be defined in a future version of MATLAB
% handles structure with handles and user data (see GUIDATA)
proyek=guidata(gcbo);
I=get(proyek.axes1,'Userdata');
if isequal(I,[])
msgbox('Belum ada gambar!','Peringatan','warn');
else
PSF=fspecial('unsharp');
A=imfilter(I,PSF,'replicate');
set(proyek.figure1,'CurrentAxes',proyek.axes2);
set(imshow(A));
set(proyek.axes2,'Userdata',A);
redo_Callback(hObject, eventdata, handles);
end

% — Executes on button press in pushbutton3.
function pushbutton3_Callback(hObject, eventdata, handles)
% hObject handle to pushbutton3 (see GCBO)
% eventdata reserved - to be defined in a future version of MATLAB
% handles structure with handles and user data (see GUIDATA)
proyek=guidata(gcbo);
[namafile,direktori]=uiputfile({'*.jpg';'*.*'},'Simpan Citra');
I=get(proyek.axes2,'Userdata');
imwrite(I,strcat(direktori,namafile));

Logika dari Listing tsb :
Pada Proses Penajaman Gambar (Sharpening) ini, kita menggunakan Software MATLAB. MATLAB (Matrix Laboratory) adalah sebuah program untuk analisis dan komputasi numerik dan merupakan suatu bahasa pemrograman matematika lanjutan yang dibentuk dengan dasar pemikiran menggunkan sifat dan bentuk matriks. MATLAB telah berkembang menjadi sebuah environment pemrograman yang canggih yang berisi fungsi-fungsi built-in untuk melakukan tugas pengolahan sinyal, aljabar linier, dan kalkulasi matematis lainnya. Untuk membuat Penajaman Gambar kali ini, kami menggunakan fitur GUI pada MATLAB.

            GUIDE atau GUI builder merupakan sebuah graphical user interface (GUI) yang dibangun dengan obyek grafik seperti tombol (button), kotak teks, slider, menu dan lain-lain. Aplikasi yang menggunakan GUI umumnya lebih mudah dipelajari dan digunakan karena orang yang menjalankannya tidak perlu mengetahui perintah yang ada dan bagaimana kerjanya. Untuk Memulai GUIDE Matlab dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1.       Melalui command matlab dengan mengetikkan: >> guide
2.       Klik tombol Start Matlab dan pilihlah MATLAB, lalu pilih GUIDE (GUI Bulder)
Setelah kita masuk dalam fitur GUI, maka kita buat tampilan untuk program Sharpening ini dengan membuat 2 Axes dan 3 Pushbutton. Axes berguna untuk menampilkan sebuah grafik atau gambar (image).  Axes sebenarnya tidak masuk dalam UIControl, tetapi axes dapat diprogram agar pemakai dapat berinteraksi dengan axes dan obyek grafik yang ditampilkan melalui axes. Sedangkan Pushbutton merupakan jenis kontrol berupa tombol tekan yang akan menghasilkan tindakan jika diklik, misanya tombol OK, Cancel, Hitung, Hapus, dan sebagainya. Untuk menampilkan tulisan pada pushbutton kita dapat mengaturnya melalui property inspector dengan mengklik obeyek pushbutton pada figure, lalu mengklik toolbar property inspector atau menggunakan klik kanan lalu pilih property inspector. Selanjutnya isilah tab string dengan label yang diinginkan.
Kemudian untuk mengaktifkan button “Pilih Gambar”, klik kanan pada button tersebut, pilih menu view callbacks – callback. Menu callback yang telah dipilih tersebut, akan membawa ke dalam editor “file.m” dan menyorot ke fungsi button1 (“Pilih Gambar”). Kemudian kita ketikan script ini :
proyek=guidata(gcbo);
[namafile,direktori]=uigetfile({’*.jpg’;’*.bmp’;’*.png’;’*.tif’},’Buka Gambar’)
if isequal(namafile,0)
return;
end
eval(['cd ''' direktori ''';']);
I=imread(namafile);
set(proyek.figure1,’CurrentAxes’,proyek.axes1);
set(imshow(I));

set(proyek.figure1,’Userdata’,I);
set(proyek.axes1,’Userdata’,I);
Script diatas berfungsi untuk mencari file gambar yang berekstensi .jpg/ .bmp/ .png/ .tif. kemudian jika gambar telah dipilih akan dideklarasikan sebagai variable I dan dimasukan ke dalam Axes1 yang telah dibuat sebelumnya.
Dengan cara yang sama kita buat button untuk melakukan Proses Penajaman Gambar (Sharpening), lalu  aktifkan button yang ke 2 (“Proses”) dan ketikkan script di bawah ini :
proyek=guidata(gcbo);
I=get(proyek.axes1,’Userdata’);
if isequal(I,[])
msgbox(’Belum ada gambar!’,’Peringatan’,’warn’);
else
PSF=fspecial(’unsharp’);
A=imfilter(I,PSF,’replicate’);
set(proyek.figure1,’CurrentAxes’,proyek.axes2);
set(imshow(A));
set(proyek.axes2,’Userdata’,A);
redo_Callback(hObject, eventdata, handles);
end
Script diatas berfungsi untuk pemrosesan Penajaman Gambar. Awalnya kita gunakan variable I untuk  mendeteksi gambar dari axes1 , namun jika gambar belum ada, maka akan dimunculkan alert atau message box. Jika gambar terdeteksi makan akan dilakukan penajaman dan hasil akan dimasukan ke dalam Axes2.
Proses Penajaman ini hanya menggunakan fungsi yang telah tersedia dari MATLAB, yaitu fungsi Filter Unsharp. Filter Unsharp ini merupakan “edge enchancemen filter” yang akan menyebabkan citra input akan menjadi lebih jelas dan tajam tepiannya. Filter Unsharp mempunyai rumusan sebagai berikut :



          
 Pada program fungsi Filter Unsharp ini dilakukan dengan menggunakan fungsi imfilter dan fspesial  dengan parameter unsharp dan alpha, dengan sintaks sebagai berikut :
Filter = fspecial(‘unsharp’, alpha);
Citra_output = imfilter (citra_output, filter,’replicate’).
Yang akan akan melakukan penyaringan dengan filter peningkatan kontras unsharp dengan matriks 3x3. Fspesial akan membuat filter unsharp dari citra negatif hasil laplace dengan parameter alpha. Alpha akan mengendalikan bentuk dari hasil laplace filter tersebut dan harus berkisar di range 0.0 s/d 1.0. Harga default untuk alpha adalah 0.2.
Lalu kita buat button3 (“Simpan”) dengan langkah seperti sebelumnya kita masukkan script di bawah ini :
proyek=guidata(gcbo);
[namafile,direktori]=uiputfile({’*.jpg’;’*.*’},’Simpan Citra’);
I=get(proyek.axes2,’Userdata’);
imwrite(I,strcat(direktori,namafile));
Script di atas berfungsi untuk melakukan penyimpanan hasil proses Penajaman. Dengan mendeklarasikan variabel I untuk mengambil gambar dari Axes2 dan menyimpan ke dalam direktori user.  Jika telah selesai semua Save file “.m” , lalu run atau dapat juga dengan menekan tombol f5.

OUTPUT :



In:

Keuntungan dan Kelemahan VOIP

Keuntungan VoIP :
  1. Biaya lebih rendah untuk sambungan langsung jarak jauh. Penekanan utama dari VoIP adalah biaya. Dengan dua lokasi yang terhubung dengan internet maka biaya percakapan menjadi sangat rendah.
  2. Memanfaatkan infrastruktur jaringan data yang sudah ada untuk suara. Berguna jika perusahaan sudah mempunyai jaringan. Jika memungkinkan jaringan yang ada bisa dibangun jaringan VoIP dengan mudah. Tidak diperlukan tambahan biaya bulanan untuk penambahan komunikasi suara.
  3. Penggunaan bandwidth yang lebih kecil daripada telepon biasa. Dengan majunya teknologi penggunaan bandwidth untuk voice sekarang ini menjadi sangat kecil. Teknik pemampatan data memungkinkan suara hanya membutuhkan sekitar 8kbps bandwidth.
  4. Memungkinkan digabung dengan jaringan telepon lokal yang sudah ada. Dengan adanya gateway bentuk jaringan VoIP bisa disambungkan dengan PABX yang ada dikantor. Komunikasi antar kantor bisa menggunakan pesawat telepon biasa
  5. Berbagai bentuk jaringan VoIP bisa digabungkan menjadi jaringan yang besar. Contoh di Indonesia adalah VoIP Rakyat.
  6. Variasi penggunaan peralatan yang ada, misal dari PC sambung ke telepon biasa, IP phone handset



Kelemahan dari VoIP
  1. Kualitas suara tidak sejernih jaringan PSTN. Merupakan efek dari kompresi suara dengan bandwidth kecil maka akan ada penurunan kualitas suara dibandingkan jaringan PSTN konvensional. Namun jika koneksi internet yang digunakan adalah koneksi internet pita-lebar / broadband seperti Telkom Speedy, maka kualitas suara akan jernih - bahkan lebih jernih dari sambungan Telkom dan tidak terputus-putus.
  2. Ada jeda dalam berkomunikasi. Proses perubahan data menjadi suara, jeda jaringan, membuat adanya jeda dalam komunikasi dengan menggunakan VoIP. Kecuali jika menggunakan koneksi Broadband (lihat di poin atas).
  3. Regulasi dari pemerintah RI membatasi penggunaan untuk disambung ke jaringan milik Telkom.
  4. Jika belum terhubung secara 24 jam ke internet perlu janji untuk saling berhubungan.
  5. Jika memakai internet dan komputer di belakang NAT (Network Address Translation), maka dibutuhkan konfigurasi khusus untuk membuat VoIP tersebut berjalan
  6. Tidak pernah ada jaminan kualitas jika VoIP melewati internet.
  7. Peralatan relatif mahal. Peralatan VoIP yang menghubungkan antara VoIP dengan PABX (IP telephony gateway) relatif berharga mahal. Diharapkan dengan makin populernya VoIP ini maka harga peralatan tersebut juga mulai turun harganya.
  8. Berpotensi menyebabkan jaringan terhambat/Stuck. Jika pemakaian VoIP semakin banyak, maka ada potensi jaringan data yang ada menjadi penuh jika tidak diatur dengan baik. Pengaturan bandwidth adalah perlu agar jaringan di perusahaan tidak menjadi jenuh akibat pemakaian VoIP.
  9. Penggabungan jaringan tanpa dikoordinasi dengan baik akan menimbulkan kekacauan dalam sistem penomoran

In:

Sharing File pada CentOS menggunakan NFS

          NFS (Network File System) merupakan sebuah sistem berkas terdistribusi yang dikembangkan oleh Sun Microsystems Inc. pada awal dekade 1980-an yang menjadi standar de facto dalam urusan sistem berkas terdistribusi. NFS didesain sedemikian rupa untuk mengizinkan pengeksporan sistem berkas terhadap jaringan yang heterogen (yang terdiri dari sistem-sistem operasi yang berbeda dan platform yang juga berbeda). Teknologi NFS ini dilisensikan kepada lebih dari 200 vendor komputer dan jaringan, dan telah dibuat implementasinya pada banyak platform dan sistem operasi, termasuk di antaranya adalah UNIX, GNU/Linux, Microsoft Windows, dan lingkungan mainframe.
Untuk mengunaka NFS berikut sedikit cara menginstal dan menggunakan NFS :
Ketikan perintah #rpm -qa | grep nfs


Lalu samakan class IP guess (CentOS) dengan IP host (Windows). Dan ubah setting Network menjadi Bridge Adapter. Kemudian lakukan tes dengan cara melakukan ping ke klien lain.


Kemudian buat folder baru, misalkan kita beri nama “filesharing”. Untuk membuat folder baru melalui terminal dengan #mkdir filesharing. Setelah itu masuk ke editor nano dengan mengetikkan #nano /etc/exports. File Exports digunakan untuk mengatur direktory mana saja yang akan di sharing dan klien mana saja yang diperbolehkan untuk mengaksesnya.


-  Ketikkan nama folder yang dibuat tadi, masukkan alamat IP dan netmask, serta ketentuan yang diberlakukan oleh folder tersebut. Disini kita buat saja (rw, sync). (rw) --> klien bisa merubah file. (sync) --> menjawab permintaan sesudah permintaan perubahan dilakukan pada disk drive.


Lalu simpan dengan menekan tombol Ctrl+O, dan  keluar dengan menekan tombol Ctrl+X. Masuk ke #nano etc/hosts.allow . File Allow digunakan untuk mengizinkan IP mana saja yang terhubung ke server. Lalu ketikkan portmap, alamat IP dan netmask nya. Setelah itu, simpan konfigurasi tersebut dengan menekan tombol Ctrl+O, lalu  keluar dengan menekan tombol Ctrl+X. Setelah itu jangan lupa melakukan restart dengan perintah /etc/init.d/nfs restart.


Jalankan portmap dan nfs nya dengan mengetikkan #/etc/init.d/portmap start dan #/etc/init.d/nfs start setelah semua OK, saatnya kita melakukan percobaan.


Untuk melakukan percobaan tersebut buatlah koneksi antara server dengan klien dengan perintah #mount. Disini kita coba mengakses folder “filesharing” yang ada di klien dengan IP address 10.10.3.54. untuk menghilangkan perintah #mount, ketikkan # umount, Untuk melihat apakah sudah termounting otomatis, gunakan perintah # df